Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

“PENGADUAN 4 KORBAN EXPO-WAENA BERDARAH 23 SEPTEMBER 2019 KEPADA LEMBAGA KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA DI JAYAPURA – PAPUA”

 KONFERENSI PERS POSKO UMUM EXODUS PELAJAR DAN MAHASISWA PAPUA SE - INDONESIA KORBAN RASISME 2019

 “PENGADUAN 4 KORBAN EXPO-WAENA BERDARAH 23 SEPTEMBER 2019 KEPADA LEMBAGA KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA DI JAYAPURA – PAPUA”

Doc: posko kemanusiaan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa lewat Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993, membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Dan kini kedudukan Komnas HAM kemudian mempunyai kekuatan hukum yang lebih kuat dengan diundangkannya UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU 39/1999). Sedangkan berdasarkan Pasal 1 angka 7 UU 39/1999, Komnas HAM adalah “lembaga mandiri yang kedudukannya setigkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia”. 

Dan penetapan UU 39/1999 merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya Ketentuan majelis permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) Nomor VII/MRP/1998 tentang Hak Asasi manusia. Ketetapan ini antara lain memberikan kewajiban kepada lembaga-lembaga tinggi Negara dan seluruh aparatur pemerintahan untuk meghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan pemahaman mengenai hak asasi manusia (HAM) kepada seluru masyarakat Indonesia. 

Pada aturan penetapan dan ketentuan mengenai hadirnya Komnas HAM diatas, sehingga kami Posko Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua Se – Indonesia Korban Rasisme 2019 pun dapat menjadikan dasar pijakan untuk melakukan pengaduan  Exodus 4 korban pelanggaran HAM Expo – Waena, 23 September 2019 kepada Lembaga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia sebagaimana mestinya. 

Kini berdasarkan kronologis kejadian expo-waena berdarah 23 september 2019 yang telah kami ajukan saat ini, sudah sangat terlihat jelas bahwa pendekatan aparat gabungan TNI-POLRI tidak manusiawi, inkonstitusi dan sangat anarkisme terhadap kami masa aksi exodus korban rasisme 2019. Sehingga mengakibatkan 4 orang masa exodus tewas dibunuh oleh represif aparat, 733 orang ditahan paksa selama satu hari di Makobrimob Abepura, 70 orang mengalami luka para akibat kekerasan fisik, dan lebih dari 20 orang harus melakukan pengobatan di RS. Bayangkara, serta ada yang harus ditahan dengan kriminalisasi pasal makar.

Berikut ini adalah data korban meninggal dari kejadian Expo-Waena Berdarah 23 September 2019,  sebagai berikut:

1.    REMANUS WESAREAK, Umum 16 Tahun, Stats Pelajar SMK Negeri 8 Jayapura (Kelas XI). Kondisi, Tewas (Meninggal) dengan luka tikam dibagian leher kanan, dan beberapa sobekan di telapak tangan hingga ke betis tangan bagian kiri.

2.    YERY MURIB, Umur 23 Tahun, Status Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Manado – Jurusan Sosiologi dan Politik (Semester akhir). Kondisi, Tewas (menginggal) dengan luka tembak dibagian lengan tangan kiri dan dadah bagian kiri.

3.    ASON MUJIJAU, Umur 20 Tahun, Status Mahasiswa Universitas Negeri Cenderawasi Jayapura – Jurusan Teknik. Kondisi, Tewas (meninggal) dengan tikaman dibagian pinggang kanan, leher dan perut, dan dibagian kaki kiri tertembak patah.

4.    OTHER WENDA, Umur 23 Tahun, Status Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura - Jurusan Pertanian (Semester akhir). Tewas (meninggal) ditembak. 

Atas dasar fakta kejadian yang sudah kami serahkan, dapat kami gambarkan bahwa Aparat Gabungan TNI-POLRI pada saat itu telah melakukan pelanggaran terhadap hak hidup sebagaimana diatur pada pasal 9 ayat (1), UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia kepada 4 korban jiwa atas nama Remanus Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau dan Oter Wenda pada insiden kejadian tersebut.

Dan pada dasarnya Pasal 28 D Undang-Undang Dasar 1945 telah menyatakan bahwa "Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum." artinya setiap perbuatan yang melanggar hukum dapat diadili termasuk Aparat Gabungan TNI-POLRI saat melakukan tugas penanganan di Expo-Waena, Jayapura.

Kasus ini juga tidak lepas dari Rektor UNCEN Dr. Ir. ApoloSafanpo, ST., MT., yang dimanasecara kemanusiaan, moral dan etik perguruantinggi, seharusnya beliau bertanggung jawab atas tewasnya 4 korban masa aksi yang terjadi pasca penembakan tersebut. Sebab atas perintah dan seijin beliau,  kami 4 orang tewas di hari itu (Senin, 23 September 2019). Padahal kampus punya otonom kampus yang diatur dalam UU No. 9 Tahun 1998),” yang semestinya Aparat TNI-POLRI tidak diperbolehkan masuk ke area kampus dengan menggunakan perlengkapan perang bersenjata

Berdasarkan uraian di atas maka kami Posko Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua Se – Indonesia Korban Rasisme 2019 menegaskan dengan sikap resmi untuk pengajuan perkara pelanggaran HAM ini kepada Lembaga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia, sebagai berikut: 

1) Rektor Universitas Negeri Cenderawasi (UNCEN) Jayapura segera bertanggung jawab penuh atas 4 kejadian Expo-Waena Berdarah 23 September 2019;

2) Pangdam XVII Cenderawasi Dan Kapolda Papua Segera Perintahkan Tangkap Dan Adili Anggota TNI-POLRI selaku Pelaku Pelanggaran HAM Atas Dibunuhnya “Remanus Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau Dan Oter Wenda” Pada Expo-Waena Berdarah 23 September 2019.

3) Kapolri RI dan Mengkopulhukam segerah usut tuntas insiden Expo-Waena Berdarah 23 September 2019 akibat kebijakan militerisme Negara Indonesia yang buruk di Papua.

4) Komnas HAM RI segerah membentuk tim investigasi dan melakukan investigasi hingga penyelesaian perkara pelanggaran HAM atas fakta pelanggaran hak hidup milik “Remanus Wesareak, Yery Murib, Ason Mujijau Dan Oter Wenda” yang dijamin pada Pasal 9 ayat (1), UU Nomor 39 Tahun 1999.

5) Presiden Joko Widodo segerah tarik seluruh pasukan organic maupun non organis diseluruh Tanah Papua yang selama ini menjadi mesin pembunuh Orang Asli Papua sekarang juga.


Jayapura, 15  Maret 2021


Mengetahui,


YUSNI IYOWAU

------------------

(Ketua Posko Umum Exodus Pelajar dan Mahasiswa Papua Se - Indonesia, Korban Rasisme 2019)

Post a Comment

0 Comments