Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Tolak Otsus, Dop dan Gelar Referendum di west Papua".

 

Saat aksi. Aliansi Mahasiswa Jember Jawa timur. ( Dok : Jhe ukago).

JEMBER, SUARA MONYET – Suara Thina Kotouky begitu melengking. Semangat mahasiswa itu membara ketika membacakan puisi tentang perjuangan kematian Arnol up pada tahun- 1984, 37 Thn. Ia seolah tak peduli meski siang itu cukup terik. Sebab, puisi yang dibawakan Thina disebut mewakili suara hati Rakyat Papua,  yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Siang kemarin (26/4), lebih dari 20 mahasiswa berjalan dari double way Universitas Jember (Unej) hingga bundaran DPRD. 

Menyuarakan penolakan Otonomi Khusus (Otsus) Jilid II serta penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua Barat dan berikan hak menentukan sendiri sebagai solusi demokratik bagi rakyat Papua.

Koordinator Aksi AMP Jack Kogoya mengungkapkan, Otsus Papua yang berlangsung sejak tahun 2001, justru tidak mengurangi kasus diskriminasi di Papua. Justru, kata dia, menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pembungkaman ruang demokrasi menuntut referendum. 

“Aksi kekerasan di Jayapura sampai sekarang masih belum selesai. Terbaru, dua bulan belakangan ada pelanggaran terhadap warga sipil di di intan jaya, Nduga dan puncak papua, dan  Gereja warga sipil di sana dikuasai Polri,” kata Jack ketika aksi berlangsung.

Menurut dia, hal ini merupakan bukti bahwa Otsus Jilid I yang diberlakukan di atas tanah Papua gagal. Selanjutnya, pemekaran provinsi dan kabupaten di Papua juga dianggap sebagai keputusan pemerintah yang akan memperparah penderitaan masyarakat setempat. Sebab, menurut Jack, pemekaran tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat tapi luka batin  . Selain itu, mahasiswa juga menuntut tolak  pelibatan tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda, dalam membatalkan aksi  di wilayah Papua.

Aksi yang dilakukan oleh AMP tidak hanya orasi. Mereka juga menyanyikan yel-yel yang berbunyi, ‘NKRI… No..!’ REFERENDUM YES,  secara kompak dan lantang. Jack mengaku, hal itu merupakan yel-yel yang spontan keluar dari koordinator aksi. Solidaritas inilah yang nantinya akan menguatkan keinginan dan cita-cita rakyat  Papua.

“Kami ingin menyuarakan kepada masyarakat semuanya di Jember mengenai kondisi masyarakat Papua. Kami tahu sejarahnya. Kami tahu proses integrasinya. Tidak sesuai dengan resolusi PBB,” ucapnya.

Ia berharap, dengan adanya aksi-aksi yang dilakukan secara masif oleh mahasiswa Papua, dapat mendesak pemerintah kolonial Indonesia mengakui HAK POLITIK rakyat  Papua,“Mendesak kepada presiden tarik militerisme west Papua  ,” pungkasnya.

Reporter: jhe ukago.




 

Post a Comment

1 Comments