Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Apakah Orang Miskin Itu Karena Malas?

 

Photo Perempuan Papua dalam
demonstrasi, sumber:sbs.com.au

Oleh: Abby Douw"

Ada yang bilang "Orang miskin ada karena malas!" Sebenarnya kurang tepat, bila ditelusuri secara keseluruhan. Buruh dan rakyat miskin lah yang bekerja lebih keras dan menghasilkan kekayaan dunia. Di jaman perbudakan, budak-budaklah yang mendirikan kemegahan. Orang kaya (sukses) atau pemilik modal dan penguasa justru lebih banyak duduk diam dan menghisap hasil keringat buruh dan rakyat. Bahkan kaum pemilik modal di jaman modern, cenderung memisahkan diri dari aktivitas produksi. Mereka lebih sibuk berspekulasi di bursa saham Wall Street dan mempekerjakan petugas-petugas untuk menimbun nilai lebih/keuntungan.

Hasil produksi dunia sebenarnya bisa mensejahterakan seluruh umat manusia. Apalagi revolusi industri 4.0 yang membuat tangan-tangan manusia masif digantikan oleh robot-robot. Waktu kerja semakin sedikit dengan hasil produksi yang jauh melimpah. Kondisi ini sebenarnya mampu membawa seluruh umat manusia lebih mudah menjangkau kemakmuran. Namun tatanan masyarakat penghisapan dan penumpukan kekayaan lah yang menyebabkan masalah kemiskinan. Sistem kapitalisme lah yang menyebabkan kesenjangan. Jurang antara negeri-negeri adidaya (Imperialisme) yang kaya dengan negeri dunia ketiga termasuk West Papua yang miskin. Miskin akibat pertukaran yang monopolistic dan tidak setara.

Kemiskinan adalah masalah. Tetapi menurut teori ekonomi borjuis, kemiskinan adalah peluang. Pengangguran adalah senjata, untuk menakut-nakuti dan melemahkan buruh. Maka buruh dan rakyat biarkan miskin, menganggur, dan dipaksa lebih miskin melalui proyek monopoli ide/pengetahuan dan materi (Imperialisme). Imperialisme adalah kapitalisme dalam tahap monopoli. Monopoli kekayaan (hasil produksi dunia); monopoli ide/gagasan/ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta teknologi. 

Jadi, kalo ada yang bilang "Orang Papua miskin karena malas" itu adalah kesimpulan yang lahir dari ruang lingkup wilayah yang kecil dan jenjang waktu yang sempit. Bila jangka waktu ditarik lebih panjang dan ruang lingkup/wilayah lebih luas untuk melihat masalah ini, maka kita akan mendapati bahwa sesungguhnya sistem kapitalisme tahap monopoli adalah masalahnya. Rakyat Papua dipaksakan miskin oleh sistem penghisapan Imperialisme.

Jalan keluarnya tentu saja bukan seperti kesimpulan kaum berkesadaran naif yang bilang "kerja, kerja, kerja dan semakin keras bekerja" dan jauh dari politik. Jargon kerja-kerja adalah bahasa revisi dari jaman orba yang di-jaman-now-kan oleh Jokowi. Rakyat dipaksa keras bekerja namun kekuasaan, melalui kesepakatan2 politik merampas hasil kerja--hak rakyat untuk berpendidikan, adil, sehat, dan sejahtera. Jalan keluarnya bukan juga dengan jalan menjadi kapitalis. Kita tidak akan bisa membunuh api dengan api.

Jalan keluarnya adalah berorganisasi, berpolitik, dan mobilisasi. Pram bilang, senjata yang paling ampuh melawan tirani di jaman modern adalah organisasi. Dan sejarah banyak punya bukti. Melalui organisasi, mobilisasi mendorong tuntutan2 yang ekonomis hingga politis (kemerdekaan). Dan selanjutnya membunuh api dengan air kudus bernama sosialisme.

Post a Comment

0 Comments